Rabu, 16 November 2011

SEMANGAT SEORANG IMAM

SEMANGAT SEORANG IMAM
Aku imam berumur 18 tahun , aku mahasiswa di suatu perguruan tinggi ternama di Jakarta, aku berasal dari daerah terpencil di jawa timur, di Jakarta aku tinggal bersama paman ku, adik dari ibu ku, paman ku sangat baik dan ramah orangnya, paman ku bernama raihan iya seorang pengusaha sukses di Jakarta, aku memanggil pamanku yaitu paman han, ia mempunyai seorang anak laki – laki bernama satria, dia juga orangnya baik dan tidak sombong.

Pada tanggal 12 september 2011, aku sudah memulai perkuliahan , di saat hari pertama kesan kuliah ku cukup tak mengenakan, karena aku memang berasal dari desa jadi obrolan ku juga masih agak kedesa – desaan, meskipun begitu aku tetap tak berkecil hati , aku ingat tujuan ku kesini adalah belajar dan menjadi orang yang berguna, di hari kedua aku melihat seorang gadis cantik, ia menawan tapi aku tak yakin apakah ia mau berkenalan dengan cowok seperti aku yang berasal dari desa terpencil yang tak tau trend apa – apa yang ada di Jakarta.

Hari – hari berlalu , setelah kurang lebih 2 bulan perkuliahan, akhirnya wanita itu menyapa diriku ,dia berkata kepadaku : “ hey, mam, sudah siap buat uts nanti ? (ia menanya karena sekitar 1 minggu kedepan kami akan melaksanakan uts) sapaku : “ emm, lumayanlah, kamu gimana gi ? (dengan berlogat agak sedikit jawa, gi nama wanita itu Gianni ), sahut dia : “ aku belum siap mam, eh kamu ngerti mata kuliah bu dira ? ( bu dira dosen mata kuliah struktur organisasi data kami ) “ kenapa emgnya gi ? sahutku, itu loh mam aku masih agak sedikit bingung sama mata kuliah bu dira, kamu bisa ajari aku ngak ? (hah ? dia minta aku ajari mata kuliah SOD ?, ucapku dalam hati ) emm, bisa insya allah gi, kapan ? sahutku , kamu bisanya kapan mam ? , sepulang kuliah aja yah gi, (imam berkata agak sedikit gugup ), oh yaudah kalo gitu mam.

Setelah percakapan itu akhirnya mereka mulai deket, hari demi hari telah berlalu, dan pada semester 5 imam mulai mencoba mencari kerja untuk mencoba membayar kuliahnya sendiri, karena orangtuanya sudah sakit sakitan, meski pamannya seorang pengusaha tetapi ia tidak ingin merepotkan pamannya tersebut, suatu ketika ia akhirnya dapet pekerjaan sebagai pramusaji di suatu rumah makan, meski hanya seorang pramusaji ia tak kenal malu untuk meneruskan kuliahnya, meski ia bekerja dan sibuk dengan kuliahnya tetapi ia tidak enggan untuk selalu mengajarkan apa – apa yang ia ketahui tentang pengetahuannya dengan Gianni dan satria .
Setelah itu imam mengumpulkan uang hasil kerjanya tersebut untuk membayar uang kuliah dan ketika itu ia mengajukan beasiswa kepada pihak kampus , setelah melewati seleksi akhirnya ia dapat beasiswanya tersebut, lalu di karenakan sudah mau mendekati semester akhir, akhirnya ia pun mengundurkan diri dari pekerjaannya karena ingin lebih focus dalam kuliahnya.

Di suatu ketika satria ( sepupu imam ) mengalami kecelakaan yang amat fatal sehingga ia harus di rawat berbulan bulan karena mengalami kelumpuhan di kakinya, ketika keadaan satria sudah mulai membaik meski mengalami kelumpuhan , pada awalnya ia enggan kembali untuk kembali ke kuliahnya, tapi atas semangat dan dukungan imam dan Gianni dengan penuh ketulusan akhirnya satria pun kembali kuliah, mereka selalu bersama dalam keadaan apapun di saat sulit ,senang maupun keadaan sesusah apapun.
Dan akhirnya mereka pun lulus dari kuliah mereka, setelah itu imam bekerja di perusahaan tinggi bonafit sambil melanjutkan kuliahnya ke jenjang lebih tinggi, sedangkan Gianni administrator di perusahaan kakaknya dan satria meneruskan usaha ayahnya yang sedang berkembang pesat, meski ketiganya terbilang sukses, tapi ia tidak pernah lupa atas persahabatan mereka dan dosen – dosen yang mengajarkan mereka serta tidak pernah membedakan apa yang ada dalam diri mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar